Manusia

Di relung kesulitan hidup dan bencanalah kebahagiaan dan kesejahteraan tersembunyi, dan terkadang bencana-bencana tersembunyi dibalik kebahagiaan kita. ( Murtadha Muthahhari dalam keadilan Ilahi )

Sepanjang pelajaran hidup ini kita semua mengerti, ada perbedaan mendasar antara menyelesaikan dengan cara paling mudah (benar) dan memilih secara gampangan.

Dalam menyelesaikan yang pertama terdapat tanggung jawab disertai pertimbangan yang realistis, sesuatu yang paling mampu dilakukan, paling cepat terlaksana sesuai kadar kebutuhan tanpa merugikan diri sendiri dan kepentingan hak orang lain. Mudah tak sama dengan menghalalkan segala cara.

Menyelesaikan cara kedua, mengingatkan kita akan perilaku dan kebodohan kita sendiri belakangan ini. Kesukaan kita terhadap penipuan, korupsi, kelicikan, intrik jahat, ketamakan, glamoritas dan lain sebagainya.Mengingatkan kita akan cara-cara yang menghalalkan segala cara.

Hal-hal yang bermaksud memujakan kuasa dan benda-benda yang karenanya mampu menghalalkan kita untuk hidup tanpa keadilan, tanpa malu, tanpa belas kasih, tanpa empati.Membuat anda menjadi serigala dalam dunia kemanusiaan.

Serigala sering tak mau repot dengan proses. Dan tak bisa menghargai proses. Hasil hasil hasil. Kalau perlu akan mengajak sebanyak mungkin partisipasi untuk menjadi sebentuk gerombolan. Sehingga pada akhirnya dunia menjadi sarang saling memakan. Menjadi serigala bagi serigala yang lainnya. Dengan mengatakan semua itu, kini tidakkah kita menyadari bahwa bandul keseimbangan dalam cara-cara kita menyelesaikan persoalan hidup kita makin terasa doyong kearah serigala ?

Saya sih percaya ada terlalu banyak orang baik dan saleh diluar sana, sebagaimana saya juga percaya bahwa kehidupan model serigala bukanlah fiksi dan hanya sesuatu yang dibicarakan.

Proses hidup yang selalu menyelesaikan persoalan secara gampangan bukan hanya memancar dari perilaku aparat hukum kejaksaan, tetapi dari semua level masyarakat. Kejaksaan hanya simbol. Karena katanya jika anda ingin melihat apakah ada keadilan dan hukum efektif, maka lihatlah penegak hukumnya.

Proses hidup yang benar mengajarkan kita untuk menjauhi cara-cara gampangan. Dunia dan kehidupan ini tidak diciptakan kepada manusia untuk kesenangan, suka ria dan kemampuan untuk menghindari badai terus menerus. Melainkan sebagi sarana memilih dalam transformasi manusia menuju kesempurnaanya. Dan itu termasuk konflik dengan badai kehidupan.Konflik seperti itu adalah hukum kemajuan.

Kesulitan dan bencana merupakan keharusan bagi perbaikan manusia. Tanpa hal itu, maka tidak ada yang disebut sebagai manusia. Manusia di dalam dirinya adalah keseluruhan daya upaya untuk menyelesaikan persoalan dan cobaan. Apakah manusia mengira setelah mengaku dirinya beriman maka dibiarkan tanpa cobaan ?

Manusia diajarkan untuk mengambil resiko untuk menanggung cita-cita dan hal-hal yang luhur melawan kesenangan-kesenangan kebinatangannya. Tanggungan itu tentu tidak mudah, tetapi penderitaan dan kontradiksi seperti itu merupakan hukum yang rasional dan merupakan tanda kehidupan manusia kepada kesempurnaan pribadinya.

Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan (Qs.94 : 5-6) menurut Ayatullah Muthahari, ayat ini tidak berarti “setelah” kesulitan akan terdapat kemudahan, tidak begitu. Yang sebenarnya adalah bersama dan beserta kesulitan itu terdapat kemudahan. Dan inilah jalan-jalan manusia yang memiliki perjuangan dalam hidup ini dan bukan jalan serigala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s