Perlunya Dewesternisasi dan Islamisasi Ilmu-ilmu Kontemporer

Tuesday, 16 December 2008 09:30

Oleh-oleh Seminar “Islamisasi Ilmu-ilmu Kontemporer” di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Hidayatullah.com–Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bekerjasama dengan Institut Pemikiran Yogyakarta (IPI Jogja) menyelenggarakan seminar dan dialog ilmiah bersama dua pakar Prof. Dr. Wan Mohd. Nor Wan Daud (UKM Malaysia) dan Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. (Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah), pada hari Sabtu 13 Desember 2008.

Acara ini dihadiri oleh sebagian besar dosen UMY, PTM sekitar Yogyakarta dan para mahasiswa. Meskipun terselenggara pada hari wisuda, namun acara ini tetap menyedot perhatian dari segenap warga UMY dibuktikan dengan kehadiran para peserta dan dialog yang sangat aktif dan produktif antara pemateri dan peserta seminar.

Acara tersebut diawali dengan pidato pembukaan oleh Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam pidatonya, Yunahar menyatakan bahwa masa sekarang para sarjana dan ilmuan seolah-olah terpisah dengan ajaran moral agama dalam menjalani kehidupannya. Tingkatan ilmu pengetahuan yang telah dicapainya tidak sebanding lurus dengan kebaikan dan maslahat yang diharapkan. Bahkan atas dasar ilmu pengetahuan seringkali para sarjana terjebak untuk mengabaikan nilai-nilai fundamental keagamaan.

Menurut Yunahar, diperlukan sebuah pengkajian yang serius terhadap ilmu pengetahuan serta mengintegrasikannya dengan nilai-nilai luhur Islam atau Islamisasi. Sebagai contoh; Wacana “Islamisasi” di UMY telah lama dikumandangkan, namun sampai hari ini, masih terbatas hal-hal yang bersifat simbolik. Seperti tata cara berpakaian, mengawali perkuliahan dengan basmalah dan mengakhirinya dengan hamdalah ataupun dengan menyertakan ayat-ayat Al-Quran pada materi-materi perkuliahan, sehingga terkesan bahwa “Islamisasi” identik dengan ‘ayatisasi’. Meskipun hal ini tidak keliru namun hanya bersifat permukaan dan parsial. Maka diperlukan sebuah pengkajian yang serius dan mendalam yang dapat memberikan dasar-dasar teologis dan filosofis bagi wacana “Islamisasi” ilmu kontemporer.

Prof. Wan Daud mempresentasikan makalah bertajuk “Dewesternization and Islamization : Their Epistemic Framework and Final Purpose”. Menurutnya, salah satu tantangan pemikiran Islam kontemporer yang dihadapi kaum Muslimin saat ini adalah problem ilmu. Sebabnya, peradaban Barat yang kini mendominasi peradaban dunia telah menjadikan ilmu sebagai problematis. Selain telah mengosongkan ilmu dari agama, konsep ilmu dalam peradaban Barat juga telah melenyapkan Wahyu sebagai sumber ilmu, memisahkan wujud dari yang sakral, meredusir intelek kepada rasio dan menjadikan rasio yang manjadi basis keilmuan, menyalah-pahami konsep ilmu, mengaburkan maksud dan tujuan ilmu yang sebenarnya, menjadikan keraguan dan dugaan sebagai metodologi ilmiah ; dan menjadikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, berubah dengan abadi.

Teori ilmu yang telah berkembang di Barat termanifestasikan dalam berbagai aliran seperti rasionalisme, empirisisme, skeptisisme, agnotisisme, positivisme, objektifisme, subjektifisme dan relativisme. Aliran-aliran semacam ini setidaknya berimplikasi sangat serius.

Pertama, menegasikan dan memutuskan relasi manusia dengan alam metafisik, mengosongkan manusia dan kehidupannya dari unsur-unsur dan nilai transenden serta mempertuhankan manusia; Kedua, melahirkan dualisme, manusia terjebak pada dua hal yang dikotomis dan tak dapat dipersatukan, dunia-akherat, agama-sains, tekstual-kontekstual, akal-wahyu dan seterusnya. Ini mengakibatkan manusia sebagai makhluq yang terbelah jiwanya (split personality).

Sebagai solusi alternatif atas bencana implikasi peradaban materialis-sekuler yang anti Tuhan ini diperlukan dewesternisasi dan Islamisasi Ilmu-ilmu kontemporer. Dewesternisasi bukanlah dipahami sebagai gerakan anti Barat dan peradabannya. Fakta menyatakan mereka telah menjadi pemegang kendali peradaban saat ini. Dewesternisasi ialah membersihkan berbagai pernik peradaban masa kini dari unsur-unsur worldview Barat yang bertentangan dengan worldview Islam yang tauhidik dan melahirkan implikasi yang sangat serius dan destruktif atas kemanusiaan sejagad.

Islamisasi ialah meletakkan paradigma ilmu tersebut pada frame Islam dan sesuai dengan ajaran nilai yang teo-sentris. Dengan demikian Islamisasi ini bersifat dinamic-stabilisme. Dinamis tidak statis, aktif dan tidak pasif tetapi pada saat yang berpijak pada pondasi yang kokoh. Tidak mudah diombang-ambingkan oleh beragam varian tantangan dunia dan kemanusiaan kontemporer. Islamisasi berjalan secara adil dan seimbang antara dua aspek; tsawabit dan mutaghayirat.

Sebagian pihak memilih istilah “Islamisization” (Islamisisasi) yang berarti, menundukkan ilmu-ilmu kontemporer tersebut pada frame budaya dan pemikiran umat Islam yang dianggap sebagai Islam itu sendiri. Artinya, bukan meletakkannnya pada frame Islam yang otentik tetapi pada apa yang dianggap oleh sekelompok umat Islam sebagai Islam itu sendiri. Gagasan ini menurut Prof. Wan, tidak dapat diterima. Karena tidak semua produk budaya dan pemikiran umat Islam merefleksikan Islam itu sendiri, dan hal ini berimplikasi pada cakrawala Islam yang terpecah dan warna warni. Ada Islam Arab-non Arab, Islam Eropa, Islam Amerika, Islam Melayu, Jawa dan seterusnya.

Padahal Islam itu sejatinya ialah satu. Bisa saja setiap zaman melahirkan dinamika budaya dan pemikiran, tapi hal tersebut dikatakan sebagai khazanah budaya dan pemikiran Islam ‘tertentu’, dan bukan totalitas Islam. Ini berimplikasi pada diterima atau ditolaknya produk pemikiran dan budaya tersebut sebanding lurus dengan kesesuaian dan pertentangannya dengan frame Islam yang otentik.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemahaman dan penguasaan tentang worldview Islam sebagai basis dan pondasi utama islamisasi Ilmu-ilmu Kontemporer menjadi sesuatu yang sangat urgen ditanamkan kepada para pelajar, khususnya pada jenjang Pendidikan Tinggi. Karena merekalah yang akan menjadi penyebar ilmu dan sebagai rujukan berperilaku bagi generasi di bawah mereka.

Integrasi Ilmu

Prof. Dr. Syamsul Anwar membentangkan makalah bertajuk “Pendekatan Terpadu Dalam Studi KeIslaman : Belajar Dari Ilmu ekonomi Islam”. Beliau lebih condong menggunakan istilah “integrasi ilmu-ilmu sekuler ke Islam”. Integrasi lebih mengesankan adanya gerak dua arah yang saling mendekat secara aktif antara ilmu-ilmu ‘sekuler’ dengan ilmu-ilmu keIslaman.

Integrasi ilmu tidak dimaksudkan untuk ‘merger’ dua ilmu yang berbeda obyek forma dan materinya menjadi satu ilmu baru. Ilmu Tafsir Al-Qur’an umpamanya, tetaplah ilmu Tafsir dengan obyek kajiannya yang khas dan jenis pengetahuan yang hendak dicapainya yang khas pula. Begitu pula halnya dengan Antropologi.

Wacana integrasi ilmu ini mengemuka karena permasalahan konstruksi keilmuan yang ada. Prof. Syamsul, mengutip keterangan beberapa ahli bahwa, ilmu-ilmu keislaman yang ada sekarang masih mempertahankan paradigma klasik dan memiliki kelemahan berupa kurangnya dimensi empiris dan tidak adanya sistematisasi yang komprehensif.

Namun dimensi empiris di sini tidaklah berarti tanpa batas-batas tertentu, apalagi terjebak pada paham Empirisme. Karena jelas, masing-masing ilmu berdiri di atas sebuah paradigma yang hadir dengan postulat-postulat tertentu.

Pada sisi lain, ilmu-ilmu Barat yang sekuler berlandaskan pada paham materialisme yang secara ontologis berimplikasi pada pemahaman bahwa hanya dunia yang terindera sajalah yang menjadi obyek pengetahuan dan hanya melalui indera saja dimungkinkan untuk membuat klaim pengetahuan mengenai dunia kongkret.

Akibat lebih lanjut dari ontologi dan epistemologi yang berbasiskan faham materialisme ini adalah penolakan terhadap wahyu sebagai sumber ilmu tertinggi. Inilah sebab mengapa agama dikeluarkan dari wilayah keilmuan. Bagi faham materialisme agama adalah wilayah kepercayaan, yang di dalamnya akal dan agama tidak dapat dipertautkan.

Sebagai langkah kongkret, integrasi ilmu dapat dilakukan dengan dua hal sekaligus; pertama, integrasi dari ilmu-ilmu agama yang sarat nilai ke dimensi empiris; dan kedua, gerak integrasi dengan melakukan pemungsian kembali sumber-sumber kewahyuan dan keagamaan dalam kegiatan ilmiah. Dengan demikian integrasi ilmu sesungguhnya, suatu reorientasi dan restrukturisasi sistemik seluruh lapangan pengetahuan manusia sesuai dengan suatu perangkat kriteria baru yang diturunkan dari Islamic worldview.

Dapat disimpulkan bahwa, penjelasan kedua pakar tersebut di atas sama-sama meletakkan worldview Islam sebagai landasan utama bagi Islamisasi ilmu-ilmu kontemporer yang memayungi integrasi ilmu ‘sekuler’ kepada ilmu keIslaman. [fathurrahman/www.hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s