Mutiara Hikmah (1)

Albasthu ta’khudzun nafsu minHu hazzohaa biwujuudil farohi. Wal qobdhu laa hazzo linnafsi fiihi.

Di dalam masa kelapangan (basith) hawa nafsu dapat mengambil bagiannya karena gembira, sedang dalam masa sempit (qabdh) tidak ada bagian sama sekali untuk hawa nafsu. Karena itu manusia lebih aman dalam kesempitan, karena hawa nafsu tidak dapat memperdaya.

Abul Hasan Assadzili ra berkata : Alqobdhu wal basthu (risau hati dan riang hati) selalu silih berganti dalam perasaan tiap hamba, bagaikan silih berganti siang dan malam. Dan sebabnya qobdh (risau hati) itu salah satu dari tiga :

1. Karena dosa

2. kehilangan dunia atau

3. Karena dihina orang.

Maka adab seorang hamba, jika merasa berdosa harus segera bertobat, dan jika kehilangan dunia, harus rela dan menyerah kepada hukum Alloh, dan bila dihina orang harus sabar. Dan jagalah dirimu jangan sampai kamu merugikan dirimu dua kali, yakni dengan perbuatanmu sendiri, dan hinaan (aniaya) orang lain.

Dan apabila terjadi qobdh (risau hati) itu tidak diketahui sebabnya, maka harus tenang menyerah. Insya Alloh jika tenang menyerah, maka akan sirna masa gelap dan berganti dengan terang, ada kalanya terang bintang yaitu ilmu atau sinar bulan yaitu tauhid, atau sinar matahari yaitu makrifat, tetapi jika tidak tenang di masa gelap (risau hati) mungkin akan terjerumus dlam kebinasaan.

Adapun dalam masa basth (riang hati), maka sebabnya adalah salah satu dari tiga :

1. Karena bertambahnya kelakuan ibadah (taat).

2. Bertambahnya ilmu makrifat atau karena bertambahnya kekayaan atau kehormatan.

3. Karena pujian dan sanjungan orang kepadanya.

Maka adab seorang hamba adalah jika merasa bertambah taat ibadahnya dan ilmu makrifatnya harus merasa bahwa itu semata-mata karunia Allohm dan harus berhati-hati jangan sampai merasa bahwa itu dari kerajinan sendiri. Dan jika mendapat tambah keduniaan, maka inipula yang harus dianggap bahwa itu semata-mata karunia Alloh, dan harus waspada jangan sampai terkena bahayanya.

Adapun jika berupa pujian sanjungan orang kepadamu, maka kehambaanmu mengharuskan kamu bersyukur kepada Alloh yang telah menutupi kejelekanmu, sehingga orang-orang hanya mengenal kebaikanmu semata-mata.

Rubbamaa a’thooka famana’aka wa rubbamaa mana’aka fa’athooka.

Ada kalanya Alloh memberi kepadamu kekayaan (kesenangan) dunia, tetapi tidak memberi kepadamu taufiq hidayah-Nya, dan ada kalanya Alloh menolak (tidak memberi) kamu dari kesenangan dunia dan kemewahan-Nya, tetapi memberi kepadamu taufiq dan hidayah-Nya. Muhyiddin Ibnu Aroby berkata : jika ditahan permintaanmu maka berarti engkau telah diberi, dan jika segera diberi permintaanmu maka berarti telah ditolak dari sesuatu yang lebih besar. Karena itu utamakan tidak dapat, dari pada dapat. Dan sebaiknya seorang hamba tidak memilih sendiri, tetapi menyerah sebulat-bulatnya kepada Alloh yang menjadikannya, dan yang telah mencukupi segala kebutuhannya.

Mataa fataha laka baabal fahmi fill man’i ‘aadal man’u ‘ainal’athooi.

Apabila Alloh membukakan bagimu pengertian (faham) tentang penolakan-Nya, maka berubahlah penolakan itu berarti (menjadi) pemberian. Apabila Alloh telah memperlihatkan kepadamu hikmah kebijaksanaan-Nya dalam apa yang dijauhkannya kepadamu, maka itu berarti suatu karunia Alloh kepadamu, sehingga terasa olehmu keselamatanmu dunia dan akhirat.

Alakwaanu zhoohiruhaa ghirrotun wa baathinuhaa ‘ibrotun fannafsu tanzhuru ilaa zhoohiri ghirrotihaa wal qolbu yanzhuru ilaa baa thini ‘ibrotihaa.

Alam ini lahirnya berupa tipuan, dan batinnya sebagai peringatan, maka hawa nafsu melihat lahir tipuannya, sedang mata hati memperhatikan peringatannya (akibatnya).

Firman Alloh :

Falaa taghurronnakumul hayaatud dunyaa  ( Maka janganlah kamu tertipu oleh kehidupan dunia )

Wamal hayaatud dunyaa illaa mataa’ul ghuruur  ( Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang menipu )

Nabi Isa as berkata : Celakalah kamu wahai ulama yang tidak jujur (su’). Perumpamaanmu bagaikan selokan (got) kotoran, luarnya bersemen baik dan dalamnya penuh kotoran basi.

In arodta an yakuuna laka ‘izzun laa yafna falaa tasta’izzanna bi’izzin yafnaa.

Jika engkau ingin mendapatkan kemuliaan yang tidak rusak, maka jangan membanggakan kemuliaan yang rusak. Kemuliaan yang tidak rusak hanya kemuliaan dengan Alloh, bersandar diri kepada Alloh, sebab Alloh kekal tidak rusak. Adapun jika berbangga dengan kekayaang, kebangsaan, kedudukan, maka semua itu palsu, rusak dan tidak kekal. Maka siapa yang bersandar / berbangga dengan kepalsuan / bayangan, maka pasti binasa dan rusak bersama dengan apa yang dibanggakan itu.

Firman Alloh :

Ayabtaghuuna ‘indahumul’izzata, fainnal ‘izzata lillahi jamii’an

Apakah mereka mengharapkan pada apa yang mereka sanjung itu suatu kemuliaan. Ketahuilah, sesungguhnya kemuliaan itu semuanya milik dan hak Alloh ta’ala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s