Out of Being

Seorang kiai muda sering mengunjungi santrinya. Ditengan malam misalnya, ia mengetuk pintunya untuk bertamu dan memberi wejangan. Setelah itu ia pulang dengan nglimpe (pura – pura minta izin ke kamar mandi), lalu plas…,  menghilang.
Tuan rumah baru menyadari bahwa yan bertamu tadi bukan badan kasar si kiai, “ Pak Kiai tadi malam datang ke rumah saya ?” tanyanya. Kiai dengan wajah teduh itu Cuma mesem. Begitulah jika kesadaran roh seseoran sudah tinggi. Ia dekat dengan Alloh. Ia bisa sholat dan berzikir di dean ka’bah, sementara raganya di Tanah Air. Perjalanan spiritual ribuan kilometer itu ditempuh dalam hitungan tak masuk akal, Cuma beberapa saat. Sebagai bukti bahwa itu bukan mimpi, kala rohnya kembali ke raga, di tangannya tergenggam buah kurma segar, hasil memetik di tanah arab. Kisah ini diungkapkan tentu bukan untuk bertakabur. Ini bukti kebesaran yan Maha Agung. “ Subhanalloh,” kata kiai itu sembari menunduk.
Di tanah jawa, melepas roh dari raga dinamai ngrogo sukmo. Ada yang menyebut mati sajroning urip, mati di dalam hidup. Sembah jiwo itu ditempuh dengan cara selalu mendekatkan diri pada Alloh. Bekal yang dibawa adalah bersih lahir-bathin.
Kala sembah – roso itu dilakukan – hingga tingkat beneng dan hening (diam dan tenang ) _ timbul perasaan nikmat menyerupai rasa kantuk. Dan, yang terpenting adalah eling atau ingat. Kesadarana ini harus dipegang teguh. Jika tidak, akan hanyut atau terperosok ke alam tidur. Begitu yang terurai di buku Wedho Tomo.
Orang Barat menyebut ngrogo sukmo sebagai out of the body eperience di singkat OOBE. Kemampuan OOBE, menurut Achmad Chodjim, penulis buku Syekh Siti Jenar, adalah tahap awal untuk mengetahui rahasia kematian.
“ OOBE tak boleh diamalkan secara sembrono, gegabah, sembarangan. OOBE perlu energi banyak. Bukan energi yang diperoleh dari makanan. Tapi energi halus yang dihasilkan dengan jalan puasa, zikir (meditasi, semadi). Energi premana ini yang digunakan untuk mendorong nafs keluar dari jasad,” tulisnya.
Syekh Siti Jenar satu diantara yang tahu kan kematiannya – walau bab kematian ini ada dua versi. Versi pertama menyebut lehernya ditebas para wali. Versi kedua menulis Siti Jenar menghendaki kematiannya sendiri dengan cara menutup jala pernafasan.
Hingga kini, ajaran Siti Jenar tetap diangap kontroversial. Ia dituding berseberangan dengan wali songo, dan karena itu harus dilenyapkan sebelm “ meracuni “ umat islam. Walau diancam, ia tetap kukuh dengan pemahamannya manunggaling kawulo Gusti – menyatunya Tuhan dengan manusia. Ia hanya membabar ilmu hakekat hidup.
Ia merasa kehadiran Alloh sangat dekat . Alloh lebih dekat dari pada urat leher. Ia menganggap hidup adalah kematian, sedangkan mati adalah kehidupan. Hidup yang tak tersentuh oleh kematian, itulah kehidupan sejati.
Untuk mendapatkan ilmu sejati, manusia harus sunyi dari pamrih. Tak boleh dengki. Bebas dari kekalutan dan kecemburuan. Hati dan pikiran jadi satu, tak ada konflik bathin. Hening atau diam adalah usaha manusia untuk tidak menimbulkan riak kenegatifan dalam hidup. Bila manusia sudah mampu mewujudkan pribadinya seperti itu, dia tak akan merasa lelah atau sakit dalam menempuh kehidupan. Suka duka yang dialami, itu karena manusia kehilangan jati dirinya. Jiwanya lagi kosong. Belum bersih dan pasrah.
Orang yang pasrah kepada Alloh tidak pernah mengklaim bahwa dia yang berbuat baik. Kalaupun ada kebaikan, Alhamdulillah, yaitu Alloh yang diberi kredit. Ucapan itu untuk menghapus egoisme. Rasululloh pernah bersabda, tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat seberat atom dari perasaan sombong.
Agama, bagi Siti Jenar, bukan teori yang harus dihafal.” Agama adalah sebuah jalan yang harus dilalui. Dia tidak ambil pusing dengan nama agama, walaupun agama yang disandangnya Islam. Kenyataan hidup, keberadaan diri, itulah yang menjadi bagian kesadaran Siti Jenar,” tulis Achmad Chodjim.
Menurut Siti Jenar,” kitab suci “ di dalam diri manusia itu harus ‘dibaca’, sedangkan kitab suci yang tertulis itu merupakan penerang. Lampu itulah yang digunakan menerangi ‘ kitab suci’ yang ada di dada, agar kita tidak membaca dalam kegelapan. Agama apa saja, bagi Siti Jenar, tidak berbeda, karena sama-sama berfungsi sebagai pelita. Makna “ iyyaka na’budu” (hanya kepada Engkau kami menyembah) betulbetul dipahami, dihayati, dan diamalkan. “ Barang siapa yang buta diri di dunia ini, dihari nanti ia lebih buta, dan jalan yan ditempuhnya lebih menyesatkan,” katanya.
Ia menilai banyak orang memeluk agama karena ketakutan, bukan kerelaan. Padahal, tak ada paksaan dalam agama. Manusia tak laak melakukan penguasaan pada manusia lain. Dengan pemahaman yan seperti itu, orang yang agamanya berbeda bisa berguru kepada Siti Jenar tanpa harus meninggalkan agama asalnya. Memang tak sedikit diantara kita yang menilai ibadah yang diajarkan Siti Jenar tidak sempit. Tidak terkotak-kotak. Ia mengamalkan ibadahnya secara nyata.” Kalau mau tahu ibadah yang benar, carilah dalam dirimu sendiri,” kata Siti Jenar, yang disaat kematiannya, konon jasadnya berbau wangi dan bersinar terang. Wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s