Jangan pernah bangga berbuat dosa

Godaan kenikmatan duniawi sangatlah beragam adanya. Banyak godaan yang penyebab timbulnya dari dalam diri manusia sendiri. Bagi nafsu duniawi, urusan akhirat adalah sesuatu yang berada di luar kelaziman logika nyata, lagipula akhirat merupakan hal yang ghaib, yang belum tentu benar adanya.

Perumpamaan tabiat kecenderungan manusia kepada dunia, laksana air yang terus mengalir, mencari daerah yang lebih rendah. Untuk mengangkatnya ke atas diperlukan energi ekstra dan semangat perlawanan yang sangat besar.

Oleh karenanya, syariat Allah Subhanahu Wa Ta’ala datang dalam rangka menguatkan keberadaan akherat dengan kabar gembira tentang kenikmatan surgawi yang kekal dan tiada tandingannya serta ancaman azab neraka yang sangat menyakitkan, yang bisa mempertajam fithrah akal manusia normal yang berfikir cerdas untuk lebih merenungkan dan mengimaninya.

Kehinaan terbesar bagi seorang hamba adalah, jika dia tidak merasa dirinya sedang mendapatkan cobaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ketika dia bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak jarang malah manusia seperti ini cenderung bergembira dan berbangga ria dengan cobaan itu.

Misalnya, perasaan bangga memiliki harta yang haram atau mendapatkan kenikmatan duniawi dengan cara yang haram atau membelanjakan hartanya dalam rangka bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Manusia seperti ini tidak akan pernah selamat hanya karena banyaknya ibadah rutin (mahdhah) yang dilakukannya.

Sejarah menuntun kita untuk berusaha merenungkan keadaan para ulama pencinta dunia, cendikiawan kesiangan, da’i karbitan dan mutazahhidin (berpura-pura zuhud) yang cenderung tiada pernah merasa sedang mendapat cobaan. Kebanyakan mereka adalah budak nafsu yang sedang mengincar kekuasaan duniawi.

Sebagian dari mereka tidak menerima bahkan sangat marah jika kesalahan yang dilakukannya dinasehati atau ditegur oleh orang lain. Para cendikiawan, da’i dan ulama pemburu dunia menyampaikan nasehat mereka dengan setengah hati, penuh senda gurau dan kepura-puraan. Para mutazahhidin telah munafik dan selalu melakukan perbuatan riya’.

Cobaan pertama yang mereka terima ialah berpalingnya mereka dari kebenaran hakiki akibat kesibukannya memburu kecintaan sesama makhluk. Azab yang paling ringan yang mereka rasakan di dunia adalah hilangnya kelezatan beribadah dan kenikmatan bermunajat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Barang siapa yang ingin jiwanya bersih, maka bersihkanlah amal-amalnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam) maka Kami benar-benar akan memberi mereka air yang segar (rizki yang banyak)”.(QS. Al Jin: 16).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala pernah berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi: “Jika hamba-hamba-Ku taat kepada-Ku maka akan Aku turunkan hujan kepada mereka di malam hari. Aku pancarkan matahari tanpa awan di pagi hari dan tidak akan Aku perdengarkan gelegar guntur”.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallambersabda: “Kebaikan itu tak akan lapuk. Dosa-dosa tidak mungkin terlupakan. Para penghutang tak akan pernah nyenyak tidurnya. Sebagaimana jenis perbuatan anda seperti itulah ganjarannya”.

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: “Barang siapa yang membersihkan diri dan jiwanya maka ia pasti dibersihkan. Barang siapa yang mengotori jiwanya maka ia akan dicemari pula. Barang siapa berbuat baik di siang hari akan dibalas di malam hari”.

Tersebutlah seorang tua yang sering melakukan perjalanan ke majelis-majelis ilmu, berkata: “Barang siapa yang menginginkan dirinya selalu sehat, maka bertakwalah kepada Allah”.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Jika aku melakukan suatu maksiat, maka aku melihat akibatnya dalam prilaku pembantu dan hewan tungganganku”. Ingatlah wahai saudaraku, semoga Allah memberi taufik kepada kita.

Sesungguhnya orang yang tidur karena keracunan tidak akan pernah merasa sakit bila dipukuli. Kekurangan dan kelebihan seseorang akan tampak jika mereka terus mengintrospeksi diri. Jika kita merasa jiwa kotor maka berhati-hatilah, mungkin ada nikmat Allah yang tidak kita syukuri atau kita melakukan suatu kemaksiatan kepada Sang Pemilik Nikmat.

Berhati-hatilah agar nikmat-nikmat Allah tidak menjauh dari kita dan berhati-hatilah terhadap bala yang setiap saat bisa menimpa kita. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka berusaha mengubahnya sendiri”. (QS. Ar Ra’du :11).

Abu Ali Ar-Rudzabari berkata: “Satu hal yang menandakan bahwa engkau sangat tertipu ialah tatkala engkau berbuat jahat namun Dia membalasmu dengan kebaikan-Nya. Dan engkau tak kunjung ingin bertaubat dengan mengira bahwa dosa-dosamu bakal diampuni”.

Berlaku cermatlah! Janganlah engkau lihat ke mana kilat itu menyambar
Kilat itu mungkin hanyalah tipuan belaka
Pejamkanlah matamu, engkau akan selamat dari mara bahaya
Engkau akan dapatkan dan peroleh pahala
Petaka kaum muda adalah larut dalam nafsunya
Awal bara nafsu ada dalam tatapan mata

Siapa yang melihat akhir suatu perkara di awal langkahnya dengan mata hatinya, kelak akan beroleh hasil yang sangat baik dari perbuatannya dan akan selamat dari akibat buruknya.

Barang siapa yang tidak waspada dan hanya menuruti perasaannya, ia akan menderita akibat perbuatannya dan tidak akan mencapai kebahagiaan. Ia tidak akan pernah tentram dalam menjalani hidupnya.

Kejadian yang menimpa seseorang di masa depan, jelas menggambarkan proses masa lalunya. Kita tidak akan pernah terlepas dari dua kondisi: Berbuat maksiat kepada Allah atau berlaku taat kepada-Nya. Di manakah kemudian kelezatan maksiat Anda? Di manakah pula jerih payah taat Anda? Tidak mungkin semua itu berlalu begitu saja tanpa ganjaran dari Sang Pencipta.

Bayangkanlah saat kematian, renungkan dalam-dalam getirnya penyesalan yang begitu menggunung. “Kemanakah semua kelezatan?”

Manisnya kelezatan telah berubah menjadi kegetiran, yang tersisa kini adalah kepahitan asa yang tidak terkira. Tidakkah kita melihat akibat dari apa yang kita kerjakan? Yang waspada akan selamat. Janganlah kita terseret oleh nafsu yang akan membuat kita menyesal.

Engkau laksana tiada mendengar kabar mereka yang telah lalu
Tidak pula engkau melihat waktu memperlakukan teman-temanmu
Jika engkau tak sadar bahwa itulah rumah-rumah mereka yang abadi
Kubur-kubur mereka lenyap diterpa angin yang menderu
Bagaimanakah bisa matanya lelap terpejam?
Padahal dia tidak tahu ke mana akan kembali

File Gerimis Edisi 2 Th. Ke-1/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s