Langkahi Hari ini Dengan Kebajikan

Ketika Abu Bakar Ash-shidiq ra diangkat menjadi khalifah, beliau sering meninjau rakyatnya secara langsung setelah shalat fajar setiap hari, hingga membuat Umar bin Khaththab ra merasa heran dan ingin melihat apa yang dikerjakan beliau?

Pada suatu hari, Abu Bakar masuk ke dalam salah satu gubuk milik orang muslim. Setelah beberapa lama, Abu Bakar keluar. Umar mengikutinya dari belakang tanpa diketahui Abu Bakar, kemudian Umar memasuki rumah yang telah dimasuki Abu Bakar, maka Umar melihat perempuan tua renta yang buta di dalamnya.

“Wahai nenek siapakah anda?” Tanya Umar bin khaththab penuh keingintahuan. Nenek itu menjawab, “Aku adalah nenek tua yang renta dan buta.”

“Lalu siapakah seseorang yang telah mendatangimu tadi?” Umar bertanya kembali, dengan maksud ingin mengetahui hubungan antara keduanya.

“Aku tidak mengenalnya,” jawab si nenek.

Umar bertambah heran, “Lalu apa yang ia lakukan?”

“Dia membuatkan kami makanan, membersihkan rumah, memerahkan susu kambing untuk kami.” Mendengar hal itu Umar menangis tersedu-sedu seraya berkata, “Apakah akan ada lagi seorang khalifah sebaikmu sepeninggalmu nanti wahai Abu Bakar?” (Raudhatul Muhibbin, Ibnul Qoyyim)

Saudaraku.., tangisan Umar ra itu adalah rintihan kejujuran jiwa. Betapa ia menyadari kurangnya kebaikan yang ada pada dirinya, menyadari perbedaan yang amat jauh antara dirinya dengan Abu Bakar Ash-shiddiq ra. Umar bin Khaththab ra yang telah terjamin kedudukannya di dalam surga menangis ketika melihat kebaikan yang jarang ia lihat, terlebih itu dilakukan oleh seorang khalifah. Abu Bakar tidak pernah memandang hina orang-orang lemah, justru ia memuliakan, menolong dan membantu mereka dengan tangannya sendiri.

Saudaraku.., Abu Bakar ra selalu menjadi yang terdepan dalam berbuat kebajikan, sedangkan Umar ra sangat merasakan kesedihan ketika kalah dalam perlombaan ‘berbuat kebajikan’. Bahkan dalam salah satu riwayat dikisahkan, bahwa Umar mendapatkan seorang wanita tua dan buta di pojok kota di tengah malam. Terlihat olehnya seorang pemberi minum orang tua itu dan memenuhi semua apa yang menjadi keperluannya. Di lain waktu, Umar datang dan mendapatkan orang lain telah mendahuluinya, dia akan selalu memperbaiki apa yang menjadi kemauannya. Dia menemukan hal itu bukan hanya sekali agar tidak ada orang yang mendahului datang kepada si nenek. Umar kemudian berusaha untuk tahu siapa yang datang menemui wanita itu. Setelah diselidiki, ternyata Abu Bakar. Umar pun berkata, “Engkau lagi wahai Abu Bakar.”

Berlomba-lomba dalam kebaikan dan merasakan kesedihan ketika tidak dapat berbuat kebajikan adalah di antara sifat mulia seorang mukmin. “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.Al-Baqarah:14

Kesedihan ketika tidak dapat mengungguli orang-orang kaya di dalam kebajikan pun di rasakan oleh para sahabat Rasulullah saw dari kalangan yang miskin. Mereka mengadukan prihal tersebut kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya mendahului kami dengan pahala yang besar. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Akan tetapi mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”

Bersedihlah ketika kita tidak bisa merasakan nimatnya berbuat kebajikan hari ini. Karena itu berarti, kita telah melewati hari kita dengan satu tanda kemunafikan. Sesungguhnya Allah senantiasa membanggakan orang-orang yang berbuat kebajikan kepada para malaikat-Nya, sehingga semua malaikatpun mendoakan kebaikan bagi dirinya.

Saudaraku.., kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya dan kebaikan itu sebaik rasanya. Orang-orang yang pertama kali yang akan mendapatkan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya. Berbuat kebaikan itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya tetapi juga orang-orang yang di sekitarnya.

Saudaraku.., umur kita mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup kita hanya hari ini, atau seakan-akan kita dilahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Maka, pada hari ini pula, sebaiknya kita mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras untuk melakukan kebajikan.

Dan pada hari inilah, kita harus bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu’, menjalankan puasa sunnah dengan konsisten, bacaan Al-Qur’an yang sarat tadabbur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, rasa syukur dalam rangkaian muhasabah, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah swt berikan, perhatian dengan keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa raga, serta perbuatan baik terhadap sesama.

Pada hari ini, di mana kaki berpijak sebaiknya kita membagi waktu dengan bijak. Jadikanlah setiap menitnya laksana ribuan tahun dan setiap detiknya laksana ratusan bulan. Tanamlah kebaikan sebanyak-banyaknya pada hari ini. Merenunglah dan beristighfarlah atas setiap dosa, ingatlah selalu kepada-Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju pertemuan dengan-Nya di alam keabadian.

Saudaraku.., hari ini kita masih merasakan udara kehidupan. Mungkin, esok hari tidak. Atau, pikirkanlah dengan mereka yang harus menghirup udara dengan bantuan masker dan tabung udara. Maka, janganlah kita melupakan kehidupan di sekitar kita. Dengan orang-orang yang berada di samping rumah, di jalan atau di kantor-kantor tempat kita bekerja. Di sana, masih banyak orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita, di lorong-lorong sudut jembatan, di kereta-kereta dan bis-bis yang berjalan, ada bayi yang entah karena dosa apa harus tersiksa ‘menahan tangis’ di kala harus ikut orang tuanya mengemis.

Jadikanlah hari ini untuk berprinsip “Kekayaan bukanlah harta yang tersimpan, namun kekayaan adalah apa yang bisa kita bagi untuk sesama.”

Hari ini, ambillah sedikit harta kita untuk disedekahkan kepada yang tidak mampu, jenguklah saudara atau tetangga kita yang sedang sakit, cobalah kita untuk mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang yang kelaparan, menolong orang yang sedang kesulitan, membantu orang yang terdzalimi, meringankan penderitaan orang yang lemah, mengasihi mereka yang menderita, menghormati orang-orang alim, menyayangi anak kecil dan berbagi kepada orang tua.

Betapa besar ganjaran Allah swt bagi orang-orang yang berbuat kebajikan untuk orang yang membutuhkan. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS.Al-Baqarah:261)

Rasulullah saw bersabda, “Tiap anggota badan dari manusia wajib atasnya sedekah, tiap hari apabila terbit matahari engkau damaikan antara dua orang yang berselisih itu adalah sedekah, dan menolong orang pada tunggangannya (kendaraannya), engkau mengangkatnya ke atas

tunggangannya itu adalah sedekah, kata-kata yang baik itu adalah sedekah, setiap langkah berjalan untuk shalat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.”

Saudaraku.., berbuatlah karena sesungguhnya kebaikan dapat menhapuskan dosa-dosa. Rasulullah saw bersabda, “Bertakwalah engaku kepada Allah di manapun engkau berada, dan iringilah kejahatan itu dengan kebaikan, pasti kebaikan itu akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Berbuatlah kebaikan, karena sesungguhnya Rabb kita, Allah swt adalah Dzat Yang Maha baik. Berbuatlah kebaikan karena sesungguhnyan Islam adalah agama kebaikan dan menyuruh kepada kebaikan, hingga berbuat ketika menyembelih hewan.

Berbuatlah kebaikan, karena sesungguhnya Rasulullah saw, Rasul kita adalah manusia yang paling baik, ketakwaannya paling baik, amalnya paling baik, akhlaknya paling baik, kedermawanannya pun paling baik. Dialah suri tauladan dan contoh bagi kita.

Berbuatlah kebaikan, karena sesungguhnya pengikut Rasul adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Ukasyah bin Mihsan, Abu Hanifah, Syafi’i, Malik, Ahmad, Ibnu Taimiyah dan yang lainnya adalah representasi dari amal kebaikan tanpa henti, sekaligus contoh bagi kita yang pasti akan mengalami mati.

Berbuatlah kebaikan, karena sesungguhnya doa-doa permohonan dan ampunan yang disampaikan oleh orang-orang shaleh yang terdahulu dan akan datang juga para pengkhutbah, dan dai-dai yang menyampaikan ceramah adalah untuk orang-orang yang beriman lagi berbuat kebajikan.

Berbuatlah kebaikan wahai saudaraku.., karena sesungguhnya kebaikan yang dikerjakan, kemudian dicontoh oleh orang lain, akan menjadi ladang pahala yang tidak akan berhenti kita tuai sampai hari kiamat nanti.
Waallahu’alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s