Mengapa Tidak Ridho Pada Takdir Alloh

Banyak kita melihat orang yang tersesat, tidak ridho dan benci ketika memandang taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara mereka ada yang disebabkan lemahnya iman, mereka membantah dan menentang terhadap keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada lagi yang keluar dari lingkaran iman menuju lingkaran kekufuran dengan melihat bahwa semua yang terjadi adalah sia-sia. Golongan itu berkata, ”Apa gunanya Allah menghancurkan sesuatu setelah ia sempurna, berdiri tegak dan tertata rapi? Untuk apa pula menimpakan musibah kepada manusia? Mengapa harus ada yang miskin, jelek, sakit namun di sisi lain ada yang kaya, gagah dan segar bugar.”

Wahai hamba yang tidak ridho terhadap putusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hadirkanlah akalmu. Renungkanlah penciptaanmu. Bukankah anda tahu bahwa Allah adalah Maha Raja, karenanya Dia bebas melakukan apa saja yang Dia kehendaki? Tidakkah telah jelas pula bahwa Dia Maha Bijak dan Maha Kuasa serta tidak akan melakukan sesuatu yang sia-sia? Anda ragu kepada Allah hanya karena melihat sesuatu yang sempurna, namun dihancurkan oleh-Nya. Jika engkau menyamakan tindakan itu dengan perilaku manusia, ketika mereka membangun sesuatu lalu mereka hancurkan sendiri, itu bukanlah dua hal yang sepadan. Apakah yang muncul dalam benakmu, merusak sesuatu setelah tercipta dengan sempurna tidak mengandung hikmah dan kebijakan? Bukankah Dia yang memberikan akal kepadamu? Bukankah engkau menganggap bahwa akalmu itu sempurna? Layakkah engkau beranggapan bahwa Zat yang memberikan kesempurnaan tidak bijak dan tidak sempurna?

Peristiwa seperti itulah yang menimpa Iblis. Dia menghujat hikmah Ilahi dengan logikanya. Andaikata dia berpikir bahwa pemberi akal jauh lebih tinggi dari akal dan bahwa hikmahnya jauh lebih bijaksana daripada apa yang dimiliki oleh makhluk, akan lenyaplah segala keraguan dalam pikirannya. Dalam hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan suatu isyarat yang sangat jelas dalam firman-Nya,”Untuk Allah-kah anak-anak perempuan dan untuk kamukah anak laki-laki?” (QS. At Thuur : 39). Apakah manusia yang tidak tahu menganggap Allah mensifati diri-Nya dengan hal-hal yang tidak sempurna dan memberikan kepada manusia sesuatu yang sempurna? Tak ada alasan bagi kita, kecuali kita menimpakan kelemahan pada diri kita sendiri, atas apa yang terjadi. Kita hendaknya selalu berkata, “Inilah tindakan Zat Yang Maha Tahu dan Maha Bijak, namun Dia sengaja tidak menjelaskan tindakan-tindakan-Nya kepada kita.”

Kejadian seperti itu bukanlah hal yang aneh. Nabi Musa Alaihi Salam pernah mengalami hal serupa. Allah merahasiakan kepadanya hikmah peng-rusakan perahu yang telah sempurna bentuknya dan makna dibunuhnya seorang anak kecil. Tatkala diterangkan oleh Khidir AS rahasia-rahasia perbuat-an yang dia lakukan, barulah Musa Alaihi Salam sadar dan tidak lagi bertanya-tanya. Hendaknya kita bersikap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana Musa Alaihi Salam menyikapi jawaban Khidir Alaihi Salam atas semua pertanyaannya.

Apakah kemudian yang bisa meng-halangi Allah untuk berbuat sesuatu yang Dia sendiri tahu hikmahnya. Adalah perbuatan yang bodoh, jika seorang hamba meminta kepada tuannya dengan cara mengungkap rahasia-rahasianya, sebab yang wajib baginya adalah berserah diri dan bukan malah menentangnya. Andaikata tidak ada alasan lain dalam musibah yang menimpa manusia, kecuali agar akalnya sadar akan adanya Pencipta, maka itu sudah cukup baginya.

Jika Allah tidak menghancurkan jasad manusia, mereka akan membayangkan manusia ada tanpa ada yang menciptakannya. Tatkala maut datang, barulah jiwa (roh) tahu, setelah sebelumnya tidak tahu apa-apa, akan keajaiban-keajaiban setelah mati. Tatkala nanti roh itu dikembalikan kepada jasadnya, setelah melewati penan-tian panjang menuju akhirat, ia tahu bahwa sebenarnya ia adalah makhluk ciptaan Zat Yang mengembalikannya kepada jasadnya. Ia akan ingat semua peristiwa yang terjadi di dunia, karena kenangan-kenangan hidup masa lalunya akan dikembalikan pula sebagai-mana jasad dikembalikan wujudnya seperti semula. Dalam hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami, merasa takut (akan diazab).” (QS. At Thuur: 26)

Tatkala roh telah melihat apa yang telah dijanjikan di alam akhirat, ia akan yakin seyakin-yakinnya tanpa sedikitpun merasa ragu. Semua itu akan dialaminya setelah hari kebangkitan. Tatkala jasad kembali dibangkitkan secara utuh, ia siap pula menjalani keabadian. Dengan keyakinannya yang mantap mengakar itulah, ia pantas untuk dekat dengan Yang Haq. Karena ia beriman dengan apa yang dijanjikan dan bersabar menghadapi cobaan-cobaan yang diberikan serta tawakal dalam menjalani takdir-Nya. Sama sekali ia tidak pernah membantah kebijakan-kebijakan-Nya. Selalu melihat ibrah yang ada di sekitarnya, juga yang ada dalam dirinya. Demikianlah orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan, “Kembalilah engkau (wahai jiwa yang tenang) kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai-Nya, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr : 28-30)

Adapun orang yang ragu dan kafir berhak memasuki neraka dan tinggal selamanya di sana. Mereka pantas mendapatkannya karena telah melihat banyak bukti namun tidak bisa mengambil manfaat, bahkan selalu menentang Allah. Sehingga noda kekafiran menutupi hatinya dan menjadikan jiwanya terus berada dalam kegelapan. Tatkala mereka tidak lagi bisa mengambil pelajaran dari apa yang ada dengan dalil-dalil yang nyata di dunia, dan tidak bisa mengambil pelajaran dari apa yang akan terjadi setelah kematiannya, noda-noda kelam dalam hatinya akan senantiasa ada. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ”Andaikata mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan mengulangi apa yang pernah dilarang bagi mereka.” (QS. Al An’am: 2

Marilah kita memohon kepada Allah agar dikaruniai akal yang pasrah kepada Allah. Yang tahu batas-batas kemampuannya dan tidak menentang Khaliqnya. Sungguh sangat celaka manusia yang menentang Sang Khaliq. Apakah pembangkangannya akan mengubah takdir? Dia tidak akan memperoleh apa-apa kecuali penyesalan yang sangat dalam.

File Gerimis Edisi 4 Th. Ke-1/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s